Terhubung dengan VAZnews.com
[the_ad id="3299"]

Politik

Ada Apa Dibalik Aksi Para Buruh Di Gedung DPR Hari Ini?

Diterbitkan

|

Ada Apa Dibalik Aksi Para Buruh Di Gedung DPR Hari Ini
Photo: © Disediakan oleh SINDOnews

VAZNEWS.COM – Hari ini kabarnya para buruh akan memadati gedung DPR/MPR RI untuk berunjuk rasa


Ada Apa Dibalik Aksi Para Buruh Di Gedung DPR Hari Ini?. Aksi para buruh hari ini adalah menuntut dan menolak RUU yang berkaitan dengan ketenagakerjaan.

Jumlah buruh yang datang untuk beraksi disekitaran gedung DPR diprediksi mencapai ribuan orang, mereka datang dari berbagai penjuru Jabodetabek. Gedung DPR/MPR RI saat ini masih akan jadi tempat massa unjuk rasa.

Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan bahwa para buruh akan menyampaikan tiga tuntutan kepada pemerintah. Diantara tuntutan tersebut ialah, menolak rencana RUU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, menolak kenaikan iuran BPJS Kesehatan khususnya untuk kelas 3. Dan meminta revisi kembali PP 78/2015 yang menyebutkan tentang pengupahan.


Baca Juga:


“Aksi buruh akan dilaksanakan besok yaitu (Rabu), Jabodetabek dipusatkan di DPR. Dan ini adalah aksi damai dan tidak disisipi sikap politik manapun. Tidak ada kaitanya dalalm upaya menggagalkan pelantikan Presiden atau berhadapan dengan pemerintah yang sah”. Kata Said Iqbal kepada CNBC Indonesia saat berbicara melalui sambungan telepon pada Selasa (1/10/2019).

Rencana unjuk rasa ini sebelumnya sudah disampaikan oleh Iqbal pada awal bulan September lalu. Iqbal berharap anggota DPR RI baru turut serta dalam membantu buruh dalam menyuarakan tuntutan mereka.

Demo akan digelar serentak di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Jogjakarta, Makassar, Batam, Medan, dan Banjarmasin. Jumlah peserta aksi unjuk rasa yang akan datang ke Jakarta diperkirakan sekitar 50.000 sampai 70.000an orang.

“Kita secara total 150.000 orang dari 10 kota industri”, kata Said Iqbal.

Iqbal memastikan jika aksi buruh nanti akan berjalan damai. Ia juga meyakinkan kepada para pendemo tidak akan bernuansa politis.

Baca Juga: Polisi Tuding Ambulan Pemprov DKI Suplai Batu, Anies Angkat Bicara

Sebelum itu, pada Senin lalu (30/9/2019), Said Iqbal yang juga bersama Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nuwa Wea telah bertemu Presiden RI. Pertemuan itu diadakan di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Pada pertemuan itu, mereka membahas tentang ketenagakerjaan. Selain itu mereka juga membahas tentang keberatan atas rencana perubahan Undang-Undang (UU) ketenagakerjaan dan juga kenaikan iuran BPJS Kesehatan.

Komentar

Politik

Ahok Ngaku Diundang Istana di Pelantikan Jokowi Sebagai Keluarga

Diterbitkan

|

Ahok Ngaku Diundang Istana di Pelantikan Jokowi Sebagai Keluarga
Photo: © Disediakan oleh Medcom.id

VAZNEWS.COM – Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diketahui hadir dalam acara pelantikan Jokowi-Ma’ruf di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Minggu (20/10/2019). Ia mengaku mendapat undangan langsung dari pihak Istana.


Ahok Ngaku Diundang Istana di Pelantikan Jokowi Sebagai Keluarga. Pelantikan pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024 di Gedung DPR MPR RI dihadiri banyak tokoh politik.

Ahok yang sebelumnya juga sempat menjadi wakil Jokowi di DKI Jakarta itu terlihat hadir di acara pelantikan tersebut berjejer dengan puluhan tokoh politik lainnya.

Sosok Ahok menjadi perhatian, namanya diketahiu tidak ada dalam daftar tamu. Namun menariknya, kader baru PDI Perjuangan itu hadir sebagai tamu undangan khuhsus.


Baca Juga:


Saat ditanya awak media terkait kapasitas dirinya menghadiri pelantikan Jokowi, Ahok malah mengaku tidak tahu. Dengan tertawa ia mengatakan, kemungkinan dirinya diundang sebagai bagian dari keluarga Jokowi.

“Aku datang sebagai .. enggak tahu, bagian keluarga kali ya,” kata Ahok sambil cengengesan di Kompleks MPR RI, Senayan, Jakarta.

Ahok Ngaku Diundang Istana

Namun demikian, Ahok mengaku bahwa ia mendapat undangan menghadiri pelantikan Jokowi-Ma’ruf secara khusus dan langsung dari pihak Istana Negara.

“Ini yang ngundang beliau-beliau dari Istana.” Ujarnya.

Ahok juga mengaku tidak mengetahui secara persis perihal nama atau orang yang mengundangnya untuk menghadiri acara pelantikan tersebut.

“Saya enggak tahu (siapa yang mengundang), pokoknya saya dapat undangan (dari istana) saja,” sambungnya.

Ahok juga mengatakan, dirinya turut berbahagia atas dilantiknya pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024.

Baca Juga: Takut Gagal Dilantik, Relawan Alap-Alap Jokowi Siap Pasang Badan

Ia mengharapkan ada perubahan untuk Indonesia menjadi lebih baik di lima tahun kedepan di tangan Jokowi-Ma’ruf.

“Harapan untuk Pak Jokowi semua cita-cita apa yang ada dalam hasrat beliau untuk membangun negeri ini bisa terwujud dalam lima tahun ini,” tutup Ahok, melansir dari kompas.

Sebelumnya

Lanjut Baca

Politik

Soal RUU KPK, Jokowi Jangan Mencla-Mencle Kalau Ingin Dihormati

Diterbitkan

|

Oleh

Soal RUU KPK, Jokowi Jangan Mencla-Mencle Kalau Ingin Dihormati

VAZNEWS.COM – Gurubesar Hukum Tata Negara Universitas Jenderal Soedirman, Muhammad Fauzan mengingatkan Presiden Jokowi untuk konsisten terhadap RUU KPK. Ia mengatakan tak seharusnya Presiden bersikap mencla-mencle terkait apa yang telah ia putuskan sendiri.


Soal RUU KPK, Jokowi Jangan Mencla-Mencle Kalau Ingin Dihormati. Sikap tegas dan konsisten Presiden Jokowi kembali dipertaruhkan terkait polemik revisi UU 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) yang sudah disahkan bersama DPR.

Pakar hukum Tata Negara, Muhammad Fauzan menyinggung momen dimana Jokowi mengirimkan surat presiden (supres) untuk membahas RUU KPK bersama DPR.

Saat itu, Jokowi mengaku setuju dengan revisi UU KPK tersebut. Jokowi juga sempat menyinggung terkait keberadaan Dewan Pengawas KPK yang menurutnya perlu dibentuk.


Baca Juga:


Jokowi kala itu, cerita Fauzan, memandang perlu adanya Dewan Pengawas agar KPK dapat bekerja dalam prinsip check and balances. Dengan adanya Dewan Pengawas, maka KPK akan terhindar dari potensi penyalahgunaan kewenangan.

Fauzan juga mengaku sempat memuji langkah Jokowi ketika ia menyampaikan poin-poin yang dakan disetujui dalam RUU KPK.

“Saya berpikir inilah sikap tegas presiden (Jokowi) pilihan rakyat. Perkataan raja menjadi dasar hukum yang wajib dipatuhi dan dilarang mencla-mencle kalau ingin dihormati,” ujar Fauzan, mengutip dari laman RMOL Senin (7/10/2019).

Pengesahan revisi UU KPK oleh DPR dan Pemerintah kemudian menuai polemik. Jokowi dinilai tidak kuasa menahan desakan publik untuk menerbitkan Perppu KPK. Jokowi kemudian melempar tiga opsi untuk RUU KPK, yakni melalui legislative review, judicial review dan mengeluarkan perppu.

“Presiden (Jokowi) memberikan keterangan akan mempertimbangkan dan mengkalkulasi kemungkinan diterbitkannya Perppu (KPK) jelas Fauzan.

“Itu adalah kewenangan presiden dan konstitutional. Tetapi saya hanya ingin presiden (Joko Widodo) konsisten dengan yang telah disampaikan pada konpres yang pertama,” tegasnya.

Baca Juga: Ditanya Soal UU KPK, Mulan Jameela: Pokoknya Menolak!

Lebih lanjut, Fauzan berharap agar Jokowi tidak mencla-mencle sebagai Presiden. Untuk pihak-pihak yang tidak sepakat dengan UU KPK, Fauzan menyarankan agar menempuh jalur judicial review di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Hal itu untuk mendidik masyarakat agar menempuh jalur hukum yang konstitusional,” tutup Fauzan.

Lanjut Baca

Politik

DPR dan MPR Dikuasai Parpol Pengusung Jokowi, Yakin Bisa Kritis?

Diterbitkan

|

Oleh

DPR dan MPR Dikuasai Parpol Pengusung Jokowi, Yakin Bisa Kritis
Photo: © Disediakan oleh lampungpro

VAZNEWS.COM – Pengamat politik, Jajat Nurjaman menilai terpilihnya ketua DPR dan MPR dari partai politik pengusung pemerintah dapat berakibat buruk. Menurutnya, kedua lembaga tersebut tidak seharusnya terikat oleh pengaruh kekuasaan.


DPR dan MPR Dikuasai Parpol Pengusung Jokowi, Yakin Bisa Kritis?. Dua lembaga negara, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Majelis Mermusyawaratan Rakyat (MPR) akan kembali mengalami krisis kepercayaan jika tidak mampu melaksakan fungsi legislasi secara independen.

Seperti diketahui, ketua DPR RI terpilih merupakan kader PDI Perjuangan yang notabene adalah parpol utama pengusung Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Jokowi-Ma’ruf. Begitu juga dengan posisi ketua MPR yang diduduki oleh perwakilan dari partai Golkar.

Baik PDIP maupun Golkar adalah parpol pengusung Jokowi. Untuk periode 2019-2024, DPR akan dipimpin oleh Puan Maharani dari PDI Perjuangan. Sementara untuk ketua MPR akan dijabat oleh Bambang Soesatyo dari Partai Golkar.


Baca Juga:


Melihat fakta di atas, Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID), Jajat Nurjaman berpendapat seharusnya baik DPR maupun MPR tidak boleh terikat oleh pengaruh kekuasaan politik manapun termasuk dari pemerintahan yang sedang berkuasa.

Jajat Nurjaman khawatir kedua lembaga tersebut menjadi tumpul dan tidak mampu melakukan fungsinya dengan baik. Lembaga tersebut, terutama DPR diharapkan agar selalu melakukan kontrol terhadap jalannya roda pemerintahan dan berani mengkritisi kebijakan-kebijan yang dirasa tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.

Baca Juga: Ditanya Soal UU KPK, Mulan Jameela: Pokoknya Menolak!

“Lembaga ini (DPR dan MPR) harus mampu memaksimalkan perannya untuk melakukan check and balances terhadap roda pemerintahan.” kata Jajat, mengutip dari laman RMOL, Senin (7/10/2019).

“Kita semua tidak ingin lembaga legislasi (DPR) akan kehilangan wibawa dan terkesan tidak memiliki peran signifikan. Sebelum kepercayaan publik memburuk, saya pikir hal ini perlu jadi perhatian bersama,” sambungnya.

Lanjut Baca

Trending