Media Sosial VAZnews.com

Ekonomi

APBN Tekor, Jokowi Tegur Sri Mulyani

Diterbitkan

|

APBN Tekor, Jokowi Tegur Sri Mulyani
Photo: © linetoday

VAZNEWS.COM – Kementerian Keuangan mengumumkan adanya proyeksi defisit atau tekor APBN 2020 yang semakin menguat. Hal itu pun menjadi sorotan Presiden RI Joko Widodo dan mengegur Sri Mulyani.


[the_ad id=”1235″]

APBN Tekor, Jokowi Tegur Sri Mulyani. Defisit APBN atau APBN tekor, Presiden RI Joko Widodo menegur Menteri Keuangan Sri Mulyani.

“Terkait perubahan postur APBN Tahun 2020. Saya (Jokowi) mendapatkan laporan jika berbagai perkembangan dalam penanganan COVID-19 dan berbagai langkah strategis pemulihan ekonomi. Kemudian membawa konsekuensi adanya tambahan belanja yang berimbas pada meningkatnya defisit APBN.” Kata Jokowi pada, Rabu 3 Juni 2020.

Kementerian Keuangan memang telah mengeluarkan proyeksi defisit yang baru. Tekor APBN tahun 2020 berkisar 6,27 % atau lebih melebar dari prediksi sebelumnya. Sesuai beleid itu, pemerintah menyebut tekor APBN sebesar 5,07 % terhadap PDB atau sekitar Rp 852.9 triliun.


Baca Juga:


Dengan melebarnya proyeksi defisit APBN 2020 menunjukkan bahwa proyeksi pemerintah sebelumnya kurang tepat. Oleh sebab itu Jokowi menyinggung sederet menteri di bidang ekonomi agar membuat perhitungan yang lebih tepat.

“Untuk itu, saya (Jokowi) juga minta Menko Perekonomian, Menkeu, Menteri Bappenas melakukan kalkulasi lebih cermat. Lebih detail, lebih matang terhadap berbagai resiko fiskal kita ke depan.” Jelas Jokowi.

Ia juga menekankan agar perubahan postur APBN dilakukan secara hati-hati, transparan dan akuntabel, dengan begitu APBN 2020 dapat dipercaya.

Sri Mulyani menyebutkan defisit APBN tahun 2020 kembali melebar ke level 6,34 % atau senilai Rp 1.039,2 triliun.

Angka defisit yang paling baru ini akan dimasukkan pada revisi Perpres Nomor 54 Tahun 2020. Mulanya defisit anggaran dipasang pemerintah sebesar 5,07 % atau setara 852,9 triliun terhadap PDB.

“Perpres 54/2020 akan direvisi dengan defisit yang meningkat dari Rp 852,9 triliun menjadi Rp 1.039,2 triliun.” Kata Sri Mulyani dalam video conference, Jakarta, Rabu 3 Juni 2020.

Terkait dengan itu, Sri Mulyani mengaku terjadi perubahan target baik penerimaan maupun belanja negara dalam APBN tahun 2020. Target penerimaan menjadi Rp 1.699,1 triliun yang sebelumnya Rp 1.760,9 triliun. Sedangkan perbandingan belanja negara menjadi Rp 2.738, 4 triliun dari yang sebelumnya Rp 2.613,8 triliun.

Baca Juga: Haji Batal, Nasib Agen Travel Di Indonesia Terancam

[the_ad id=”1235″]

“Penerimaan perpajakan akan menjadi Rp 1.404,5 triliun. Belanja terjadi kenaikan Rp 124,5 triliun, yang mencakup tadi berbagai belanja untuk dukung PEN (pemulihan ekonomi nasional) dan penanganan COVID, termasuk untuk daerah dan sektoral.” Pungkas Sri Mulyani.

Sri Mulyani menuturkan, pelebaran defisit dikarenakan kebutuhan dana penanggulangan COVID-19 di tanah air yang terus meningkat. Sedangkan dalam program PEN dibutuhkan sekitar Rp 677,2 triliun.


sources : detik

Trending