Terhubung dengan VAZnews.com

Info Umat

Bagaimanakah Hukum Orangtua Gantikan Pengantin yang Sakit

Diterbitkan

|

Bagaimanakah Hukum Orangtua Gantikan Pengantin yang Sakit

VAZNEWS.COM – Pasangan pengantin asal Malaysia tidak dapat bersanding di pelaminan, pengantin pria jatuh sakit.


Bagaimanakah Hukum Orangtua Gantikan Pengantin yang Sakit. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral yang telah dinantikan calon pengantin. Setiap orang yang ingin menikah sudah barang tentu merencanakan segalanya dari jauh-jauh hari. Kadang terjadi hal yang tak disangka sebuah musibah datang. Seperti pengantin sakit saat hari berlangsungnya pernikahan.

Sebut saja pasangan asal Malaysia yang sedang viral saat ini. Fatheen dan Amirudin terpaksa tak bisa duduk bersanding di pelaminan. Pengantin pria (Amirudin) tiba-tiba sakit saat menjelang hari resepsi digelar.

Seharusnya resepsi pernikahan keduanya akan digelar pada Minggu (1/9/2019). Namun sangat disayangkan, di malam sebelum dilaksanakannya resepsi Amirudin justru sakit. Amirudin masuk rumah sakit akibat sakit cukup parah yang dideritanya.


Baca Juga :


Apa yang terjadi? acara resepsi pernikahan itu tetap dilanjutkan. Akan tetapi tidak dihadiri pengantin pria, Melainkan orangtua Fatheen yang menggantikannya. Pertanyaannya adalah apakah pernikahan itu sah?

Ustadz Asroni menjawab saat diawancarai Okezone, Sabtu (7/9/2019). “Tidak apa-apa jika resepsi digantikan oleh orangtua pengantin, karena sudah ijab kabul. Kalau resepsi itu kan sebuah tradisi atau budaya masing-masing daerah. Setiap daerah juga merayakannya dengan caranya sendiri. Jadi pernikahan tetap sah karena sudah ijab kabul,”.

Ustadz Asroni menuturkan, jika peristiwa tersebut terjadi dengan keluarga kita, kerabat kita atau orang terdekat dengan kita. Kalau memang acara resepsi itu bisa diundur alangkah baiknya diundur. Karena resepsi itu adalah sebuah momentum yang bersejarah dalam kehidupan kita. “Namun jika tidak bisa diundur ya tidak apa-apa, itu tidak jatuh kepada perbuatan melanggar hukum”.

Namun pihak yang pantas menggantikan itu dari keluarga mempelai laki-laki, karena yang berhalangan mempelai laki-laki. Tetapi kalau sudah ada kesepakatan, yang menggantikan keluarga mempelai perempuan juga tak ada masalah.

“Sebaiknya jika kita mau jadi pengantin harus menjaga kesehatan dan kebugaran. Agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan saat hari H,” lanjut Ustadz Asroni.

Seperti dilansir World of Buzz Fatheen dan ayahnya tampak bahagia. Berjalan berdampingan layaknya pengantin baru menuju pelaminan. Mereka terlihat serasi dengan mengenakan baju berwarna senada.

Para tamu undangan pun ikut menyaksikan kejadian tersebut.

Di hari yang sama seusai resepsi mempelai wanita pun berkunjung kerumah sakit. Keduanya merayakan hari yang bahagia itu di rumah sakit sebab mempelai pria yang terbaring lemah di tempat tidur. Banyak kerabat mereka pun berdatangan ikut merayakan hari pernikahannya walau sedang berada di rumah sakit.

Kisah ini pertama kali dibagikan oleh pengguna Twitter @_acabellas yang kemudian menjadi viral.

Komentar

Info Umat

Mendengarkan Khutbah Jum’at Dilarang Duduk Dengan Memeluk Lutut

Diterbitkan

|

Oleh

Dalam Khutbah Jum'at Dilarang Duduk Dengan Memeluk Lutut
Photo: © Disediakan oleh Steemit

VAZNEWS.COM – Sangat sering ditemui jemaah sholat Jumat yang duduknya dalam keadaan memeluk lutut saat mendengarkan khutbah


Mendengarkan Khutbah Jum’at Dilarang Duduk Dengan Memeluk Lutut. Sholat jumat pada umumnya dilaksanakan oleh umat islam laki-laki. Sholat jum’at adalah sholat yang hukumnya fardhu’ain bagi laki-laki muslim. Itu artinya wajib hukumnya untuk dikerjakan bagi laki-laki.

Namun untuk umat muslim perempuan, melaksanakan sholat jum’at hukumnya sunnah. Itu berarti boleh dikerjakan boleh juga tidak. Hukum menunaikan sholat jumat telah difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Jumuah ayat 9 yang artinya :

Hai orang-orang yang beriman. Apabila kalian diseru untuk melaksanakan sholat jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.


Baca Juga:


Sholat jum’at dilakukan setiap hari jumat saat memasuki waktu dhuhur. Maka dari itu, kewajiban untuk menunaikan sholat dhuhur digugurkan bagi laki-laki. Sebab sholat jumat sendiri dilaksanakan saat telah memasuki waktu dhuhur. Namun sebaliknya, para perempuan muslim harus tetap menunaikan sholat dhuhur seperti biasanya. Hari jum’at itu sendiri memiliki keutamaan menurut Islam. Termasuk di dalamnya adalah hari penghapusan dosa dimana dosa-dosa akan diampuni oleh Allah SWT dihari itu. Maka dari itu sholat jum’at begitu penting untuk dilaksanakan bagi muslim laki-laki.

Namun dalam pelaksanaan sholat jum’at itu sendiri banyak kaum muslimin yang tidak mengerti adab-adab dalam sholat jum’at. Misalkan adab duduk dalam mendengarkan khotbah jum’at. Banyak orang ketika duduk sambil mendengarkan khutbah jum’at dengan posisi memeluk lutut. Padahal duduk seperti itu sangatlah dilarang, seperti dijelaskan dalam hadist Rasulullah SAW yang artinya ;

Dari Sahl bin Muadz dari bapaknya (Muadz bin Anas Al-Juhaniy), ia berkata.

Rasulullah saw melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhotbah. (Hadist Riwayat Tirmidzi no. 514 dan Abu Daud no. 1110).

Imam Nawawi rahimahullah juga mengatakan hadis di atas dengan menyatakan dalam judul bab. Makruh hukumnya memeluk lutut pada hari Jumat saat khatib berkhotbah. Sebab itu dapat menyebabkan tertidur hingga terluput dari mendengarkan khotbah dan khawatir pula seperti itu bisa membatalkan wudu.

Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, duduk ihtiba yaitu duduk dengan mendekatkan paha pada perut dan betis didekatkan pada paha tadi. Kemudian diikat dengan tali, imamah atau cara lainnya.

Intinya adalah, yang dilakukan duduk yang sifatnya makruh atau terlarang. Kita dapat melihat pada sebagian jemaah sholat Jum’at melakukan duduk seperti ini.

Sebelumnya

Lanjut Baca

Info Umat

Anggota TNI Yang Menunaikan Shalat Di Areal Karhutla

Diterbitkan

|

Oleh

Photo: © Disediakan oleh IDNnews

VAZNEWS.COM – Seorang prajurit TNI terlihat sedang menunaikan ibadah shalat ketika sedang menjalankan tugasnya.


Anggota TNI Yang Menunaikan Shalat Di Areal Karhutla. Dalam agama islam, perintah untuk mengerjakan shalat adalah wajib hukumnya. Baik laki-laki maupun perempuan tanpa terkecuali harus mengerjakan perintah shalat sesuai ketentuan shalat dan waktu mengerjakan shalat.

Baru-baru ini di tanah air marak terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Banyak dampak yang diakibatkan oleh karhutla ini, yang paling dominan ialah kabut asap yang banyak menyebabkan polusi udara. Udara yang tercemar oleh asap dari karhutla memberikan dampak yang sangat nyata terhadap masyarakat sekitar.

Banyak anak-anak terserang penyakit infeksi saluran pernafasan (ispa). Dan juga jarak pandang ketika berada di jalan lintas menjadi terganggu.


Baca Juga:


Beranjak dari semua itu. Belum lama ini ada kejadian viral di media sosial mengenai prajurit TNI yang menunaikan ibadah shalatnya di hutan saat bertugas dalam pemadaman karhutla. Terlihat sebuah foto yang diunggah oleh akun Pusat Penerangan TNI @Puspen_TNI pada rabu (18/9/2019).

Akun itu mengunggah seorang prajurit yang sedang menunaikan shalat hanya beralaskan daun. Terlihat prajurit itu sedang posisi ruku’ dan sujud. Namun, sampai saat ini belum diketahui nama prajurit yang sedang menunaikan shalat saat bertugas memadamkan karhutla.

Photo: © Disediakan oleh Tribunnews.com

Netizen pun banyak yang memberikan pujian terhadap prajurit TNI tersebut. Netizen salut, pasalnya ditengah-tengah tugas ia tetap beribadah meski berada di lokasi kebakaran hutan dan lahan.

“Ibadah merupakan suatu kewajiban dan kebutuhan umat muslim kepada Allah SWT. Maka dimana pun dan dalam keadaan apapun shalat adalah yang utama. Seperti yang tengah dikerjakan anggota Kodim PPU di sela-sela menjalankan tugas pemadaman karhutla, walaupun hanya beralaskan daun #TNIPeduli #Karhutla,” tulis akun Puspen TNI.

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid begitu kagum dengan seorang prajurit TNI yang tengah shalat dengan beralaskan daun tersebut.

Baca Juga: Bagaimanakah Hukum Orangtua Gantikan Pengantin yang Sakit

Menurut Hidayat, kerja keras dalam memadamkan karhutla serta membantu warga dan membela Negara akan semakin bermakna saat itu. Semua itu didasarkan pada spirit dan juga laku ibadah.

“Subhanallah dan memang benar seperti itu. Itu prilaku berpancasila yang nyata. Semoga Allah terima dan jadi kontribusi untuk solusi nan berkah” kata Hidayat.

Lanjut Baca

Info Umat

Memberikan Sumbangan Karna Terpaksa, Bagaimana Hukumnya?

Diterbitkan

|

Oleh

Memberikan Sumbangan Karna Terpaksa, Bagaimana Hukumnya
Photo: © Disediakan oleh sidakpost.co.id

VAZNEWS.COM – Menyumbangkan sesuatu apapun itu haruslah ikhlas dan dengan niat yang baik pula.


Memberikan Sumbangan Karna Terpaksa, Bagaimana Hukumnya?. Dalam keseharian kita sering menemukan orang yang mendonasikan sebagian hartanya karena terpaksa.

Misalkan saja dalam suatu forum. Seorang pejabat atau orang kaya yang diminta memberikan sumbangan, lalu ia menurutinya karena malu kepada orang banyak yang berada di sekitarnya.

Kemudian apakah hukumnya menerima sumbangan dari orang yang terpaksa memberikan sumbangan tersebut?

Dikatakan oleh NU Online pada Jumat (13/9/2019). Adalah pendidik di salah satu Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah. Ustadz Ahmad Mundzir yang menyatakan hukum menerima suatu sumbangan dari orang yang terpaksa disetarakan dengan hukum Ghashab. Ghashab sendiri artinya adalah merusak, merampas, mengganggu atau menyerobot milik orang lain tanpa meminta izin.


Baca Juga :


Balasanya adalah, selain dinilai sebagai suatu pelanggaran. Segala transaksi yang muncul selanjutnya dengan menggunakan harta tersebut tidak lah sah dan tidak halal.

“Dan orang yang mengambil harta milik orang lain dengan alasan malu, mempunyai hukum yang sama dengan orang yang ghashab” (Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj, juz 6, halaman 3).

Untuk mempelajari hukum bagi penerima sumbangan dari orang yang terpaksa juga bisa di ibaratkan dengan masalah yang kerpap terjadi pada  resepsi pernikahan. Semisal ada orang yang mendekat-dekat di pintu masuk resepsi namun ia memang tidak diundang.

Tapi tuan rumah merasa segan membiarkannya, akhirnya karena motif malu, sang empunya rumah mempersilahkan masuk dan menikmati jamuan yang telah disediakan.

Seperti dikatakan Muhammad bin Salim bin Said Babashil. “Di antara maksiatnya tubuh adalah merampas makanan dalam resepsi-resepsi. Yaitu masuk kedalam area jamuan makan orang lain dengan tujuan bisa makan di situ tanpa mendapatkan izin dari yang punya acara.

Baca Juga: Lima Tempat Yang Harus Dikunjungi Di Tanah Suci

Dan tidak memperoleh kerelaannya. Atau sengaja mendatangi pintu rumah penyelenggara resepsi. Dan pada saat keluarga penyelenggara melihatnya, setelahnya menyuruh ia masuk untuk makan karena didorong perasaan malu”.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Az-Zawajir menyatakan jika hal tersebut termasuk dosa besar sebab memakan harta orang lain dengan cara yang bathil.

Lanjut Baca

Trending