Media Sosial VAZnews.com

Daerah

Heboh Jembatan Bambu di Ponorogo Senilai Rp 200 Juta

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Ponorogo, Jamus Kunto: Nanti tahun 2021 dilanjut lagi untuk struktur utamanya!

Diterbitkan

|

Heboh Jembatan Bambu di Ponorogo Senilai Rp 200 Juta
Heboh Jembatan Bambu di Ponorogo Senilai Rp 200 Juta (foto: tribunnews)

VAZNEWS.COM – Sebuah jembatan di Ponorogo tengah viral dan menjadi perbincangan. Sebab, jembatan yang terbuat dari bambu guna penghubung antardesa tersebut diduga dibangun dengan dana Rp 200 juta.


Heboh Jembatan Bambu di Ponorogo Senilai Rp 200 Juta. Jembatan yang ramai diperbincangan tersebut menggunakan sesek bambu. Kades Bulak, Arini Musrifah turut menjelaskan, bahwa jalan tersebut merupakan jalan poros yang menghubungkan Desa Bulak dan Pandak.

“Jadi karena jalan poros bukan kewenangan kita untuk membangun jalan tersebut. Itu kewenangan kabupaten,” tutur Arini, pada Kamis (17/12/2020).

Terkait soal dana Rp 200 juta, menurut Arini, anggaran tersebut difokuskan untuk membangun pondasi pada sisi kanan dan kiri jembatan. Sementara sesek bambu yang diletakkan di pondasi tersebut, merupakan buah dari gotong royong warga sebagai jembatan darurat.


Baca Juga:


“Nanti diprioritaskan tahun 2021 sekitar bulan 3 dan 4 untuk pembangunan (jembatan permanen),” kata Arini.

Sebelumnya masyarakat meminta agar jembatan lebih tinggi, lebar dan panjang. Semula tinggi jembatan tersebut hanya 4 meter dan kini menjadi 7,5 meter. Serta lebar semula 3 meter menjadi 4,5 meter dan panjangnya menjadi 9 meter.

“Untuk sesek (bambu) itu dari warga desa sendiri. Warga Desa Bulak dan Pandak supaya nggak muter terlalu jauh. Kalau muter sekitar 2,5 kilometer,” sambung Arini.

Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Ponorogo Jamus Kunto mengatakan, awalnya ada usulan dari desa untuk memperbaiki jembatan. Usulan proyek tersebut ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda).

“Dari lurah ke Bapeda, nah saya diminta untuk menghitung, antara bentang 10 sampai 11 meter itu kebutuhan anggaran sekitar Rp 500 sampai Rp 600 juta, untuk lebar maksimal sekitar 3 meter,” jelas Jamus.

Namun karena anggaran hanya tersedia Rp 200 juta, maka pihak desa menyetujui untuk dibangun pondasi terlebih dahulu.

“Nanti tahun 2021 dilanjut lagi untuk struktur utamanya,” tukas Jamus.

“Jadi kita tidak terkait dengan jembatan sesek bambu, kita ada permintaan bangun jembatan, dananya dari Bapeda Rp 200 juta. Ya sudah kita cukupkan di pondasi itu, 2021 kita tunggu alokasi anggaran baru kita lanjut,” sambung Jamus.

Jamus menambahkan, model pembangunan jembatan bertahap ini ada 7 di Ponorogo. Selain di Kecamatan Balong ini, ada juga di Desa Bajang, Kecamatan Mlarak. Jamus mencontohkan jembatan di Prayungan, Kecamatan Sawoo yang 3 tahun baru dibangun.

“Contohnya jembatan Prayungan, Sawoo sejak tahun 2009 atau 2008 kemudian 2010 kita bangun lagi, 2012 kita bangun lagi,” ujar Jamus.

Baca Juga: Sasaran Vaksin Covid-19 Orang Usia 18-59 Tahun, Mengapa Demikian?

Meski 3 kali penganggaran, tidak masalah. Hanya saja permasalahannya karena keterbatasan anggaran oleh Pemkab sehingga pengerjaan tidak langsung bisa selesai.

“Karena kalau kita memaksakan harus langsung jadi, nggak mungkin Rp 200 juta itu jadi, kaitan dengan spek kita ada ketentuan, menghitung RAB-nya ada ketentuan, pakai spek teknis kebinamargaan.

Tidak ada istilahnya kita membangun sesek, nggak ada, sesek itu karena dinamika masyarakat yang ada di situ, menggunakan yang sudah ada di situ walaupun darurat supaya tidak memutar terlalu jauh,” pungkas Jamus.

Sebelumnya

Comments

Trending