Terhubung dengan VAZnews.com

Opini

Hersubeno Arief: Sayonara Pak Prabowo

Diterbitkan

pada

Photo: © Disediakan oleh Suara.com

VAZNEWS.COM – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akhirnya bertemu dengan Presiden Jokowi. Pertemuan di stasiun Mass Rapid Transit (MRT) Lebak Bulus, Jakarta Selatan itu disambut dengan mendua.


Hersubeno Arief: Sayonara Pak Prabowo. Kubu pendukung Jokowi mengelu-elukan pertemuan tersebut. Mensekab Pramono Anung melalui berbagai akun media sosialnya sudah “membocorkan” pertemuan tersebut dengan tagar #AlhamdulillahIndonesiaku.

Para buzzer kubu 01 dikerahkan menyambut momentum penting itu. Di Stasiun Lebak Bulus sejumlah orang berteriak “Pak Jokowi we love you!”

Sebaliknya kubu pendukung paslon 02 menyambut pertemuan tersebut dengan penuh duka dan kecewa. Emak-emak militan banyak yang mewek, kecewa, marah-marah. Patah hati.

Lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro karya pelukis legendaris Indonesia Raden Saleh beredar luas di berbagai platform media sosial.


Baca Juga:


Netizen menilai kesediaan Prabowo bertemu dengan Jokowi sama dengan peristiwa ketika Pangeran Diponegoro bersedia bertemu penjajah Belanda.

Pertemuan di Magelang yang semula dijanjikan sebagai silaturahmi, berakhir dengan penangkapan Pangeran Diponegoro. Dia dijebak. Berakhirlah Perang Jawa selama lima tahun (1825-1830).

Sebuah perang yang menguras sumber daya Belanda. Banyak nyawa pasukan Belanda melayang dan kas VOC terkuras habis.

Entah secara kebetulan setting peristiwanya kok mirip-mirip.

Penangkapan Pangeran Diponegoro terjadi saat umat Islam merayakan hari raya Idul Fitri. Tanggal 2 Syawal 1245 Hijriah atau 2 Maret 1830. Sementara Prabowo bertemu pada tanggal 10 Dzulkaidah 1440 Hijriah, lebih kurang 40 hari setelah 1 Syawal 1440 Hijriah.

Sepanjang Indonesia mengadopsi sistem pemilihan langsung, inilah pertarungan terkeras yang pernah terjadi. Sebagai inkumben Jokowi mengerahkan semua sumber daya untuk mengalahkan Prabowo.

Setelah Pilpres Jokowi bersama para pendukungnya berusaha mati-matian bertemu Prabowo dan melakukan rekonsiliasi. Namun para pendukung Prabowo mati-matian mencegahnya.

Emak-emak bahkan sampai mendatangi rumah Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta. Mereka membawa poster menolak rekonsiliasi. Aksi serupa kembali terulang Jumat (12/7).

Aksi ini membuat Prabowo galau. Faksi pendukung rekonsiliasi di internal Partai Gerindra sibuk melobi emak-emak agar tak lagi berunjukrasa ke rumah Prabowo. Mereka juga menyerang para penentang rekonsiliasi sebagai Poros Ketiga. Sebuah poros khayalan untuk menghilangkan label mereka sebagai pengkhianat.

Kepada emak-emak yang sempat bertemu dengannya, Prabowo minta agar langkahnya bertemu Jokowi tidak disalahpahami.

Prabowo akhirnya memilih bertemu Jokowi. Kita tinggal menunggu apa langkah berikutnya, dan apa konsesi politik dan bisnis yang akan diperoleh. Apakah cukup sepadan?


Baca Juga:


Dari sisi Jokowi, kesediaan Prabowo untuk bertemu merupakan simbol kemenangan politik. Penyerahan diri dan simbol kepatuhan lawan politiknya. Kendati petemuan dilakukan di tempat netral, stasiun MRT, harus dilihat bahwa proyek itu adalah simbol keberhasilan dan kebanggaan Jokowi di bidang infrastruktur.

Benarkah kekhawatiran netizen bahwa Prabowo akan mengalami nasib yang sama dengan Diponegoro. Dia ditipu, ditangkap dan dibuang ke tempat pengasingan. Dipisahkan dari para pendukungnya.

Berbeda dengan Pangeran Diponegoro, justru Prabowo tampaknya yang memilih untuk berpisah dengan para pendukung militannya.

Para pendukung militan Prabowo kini dihadapkan pada pilihan sulit. Tidak ada pilihan lain mereka harus juga melepas Prabowo. Tanda-tanda bahwa Prabowo ditinggalkan para pendukungnya sudah bergema di medsos.

Bermacam meme bermunculan. Ada yang mengucapkan “Selamat Tinggal Jenderal.” Selamat berpisah Pak Prabowo,” “Adios Amigos,” ada yang yang membuat meme “Sayonara Prabowo.”

Seorang emak-emak bahkan membuat status meniru gaya milenial. “Pak Prabowo, you and me, end!”.

Dengan kemarahan semacam itu agak sulit bagi Prabowo untuk dikenang seperti Pangeran Diponegoro yang teguh dengan prinsip. Hanya bisa ditundukkan melalui tipu daya.

Sulit untuk berharap akan muncul pelukis seperti Raden Saleh yang membuat lukisan heroik menggambarkan penangkapan Pangeran Diponegoro.

Lukisan itu adalah perlawanan atas framing Belanda bahwa Pangeran Diponegoro digambarkan seolah menyerah kepada Belanda sebagaimana dibuat oleh pelukis Belanda Nicolas Pieneman (1835).

Baik pendukung paslon 01 dan paslon 02 tampaknya sampai pada satu kesimpulan yang sama. “ Sang Jenderal telah menyerah.”

Dia melupakan janjinya “saya akan timbul tenggelam bersama rakyat,” dan menukarnya dengan prinsip baru “timbul tenggelam bersama Jokowi.” end


Oleh: Hersubeno Arief


Disclaimer : Kanal opini adalah sebuah media warga. Seluruh opini yang dimuat menjadi tanggung jawab penulis. Bagi pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Komentar

Opini

Tetap Cinta atau Sayonara Prabowo? Atau Manggungkan Anies?

Diterbitkan

pada

VAZNEWS.COMTetap Cinta atau Sayonara Prabowo? Atau Manggungkan Anies?. Pepih Nugraha, alinea terakhir dari tulisan pepih yang ber, “Hahaha Cuma Cuma”. Sangat memikat hatiku, sehingga membuat aku mengambilnya jadi judul tulisanku,

TETAP CINTA PRABOWO? SAYONARA PRABOWO ? ATAU MANGGUNGKAN ANIES.

Sebelum melanjutkan tulisan ini, aku mau mengucapkan terima kasih, karena Pepih sudah jalan-jalan ke temlen kami. Semoga bahagia dengan ber”hahaha”nya. Juga berterima kasih, Pepih sudah masuk ke bilik opini kami dan melihat bahwa penghuni bilik opini itu para Korban Pemberangusan FB!

Pada tanggal 19 Juni 2019, aku membuat WAG “Korban Pembrangus FB”. Dari bincang-bincang disana, akhirnya tanggal 27 Juni, kami ketemuan dan sepakat membentuk Bilik dalam sebuah web tempat kami menyampaikan opini kami. Tanggal 15-07-2019 jam 07. Bilikopini.com kami luncurkan.

Jadi kami terbentuk bilikopini.com bukan karena kecewa pada pertemuan Prabowo Jkw di MRT Lebak Bulus. Tapi perasaan senasib, karena Pemberangusan Akun kami di FB. Dan kami tidak perlu melakukan tindakan heroik seperti anjuran pepih dengan mengucapkan, Aufwieder sehen, Mark! Karena kami tahu, ini bukan kebijakan Mark!


Baca Juga:


Berawal dari rasa kaget ! Gara-gara akunku yang telah berusia 10 tahun 5 bulan, hilang! Postingan terakhirku disana, tentang kunjunganku ke polda metro jaya membezuk Ratna Sarumpaet!

Begitu marahkah kalian, pada seorang Ratna Sarumpaet!!!!???? Yang hanya satu kali berbohong dan kebohongannya itu tidak merugikan APBN ! Sementara orang yang berkali-kali bohong dan membuat ekonomi gagal meroket dan nyungsep, hancur !!! Hutang menumpuk luar biasa, tagihan BPJS yg tak terlunasi, dana haji di pakai, harga sembako meningkat ! TDL naik berkali-kali, BBM naik berkali-kali, tarif tol naik dan naik lagi! Kalian sanjung-sanjung!

Kekagetan itu berubah marah !!!. Aku harus berbagi marah ini kepada teman-teman yang juga diberangus akunnya di FB. Jadilah kami segerombolan para Korban Pemberangusan FB. Hingga akhirnya kami sepakat, membuat sebuah bilik tempat kami berbagi beropini. Jadi bukan karena kecewa pada pertemuan Prabowo dan JKW di MRT Lebak Bulus.

Aku merasa senang sekali karena Pepih mendapat hiburan cuma-cuma, paska pertemuan PS -Jkw setelah jalan-jalan ke temlen kami.

Sama seperti Pepih, kami juga merasa senang, mendapat hiburan cuma-cuma yang sudah kami ramalkan akan terjadi, yaitu rebutan kursi diantara koalisi yang Pepih dukung.

Dan “Hahaha Cuma-cuma” kami itu, bagaikan bibit dinamit tawa yang siap meledak dengan terjadinya pertemuan PS – JKW di MRT Lebak Bulus!!!. Akankah mereka kehilangan kursi yang sudah mereka idam-idamkan? Berapa banyak mereka akan kehilangan kursi paska pertemuan PS Jkw???

Kursi apa sajakah ? BUMN kah untuk Sandi yang pakar membenahi perusahan rusak ? Agar Garuda, Pertamina, Krakatau Steel, Bank2 BUMN dll, kembali sehat dan menghasilkan keuntungan yang bagus dan bisa bersaing dengan perusahaan Tingkat Internasional.

MENKEU kah untuk Rizal Ramli yang pakar Keuangan ? Fadli zon, Sudirman Said, Chusnul Mar’iyah, Rocky Gerung, dapat kursi jugakah ? Hahahahaaaaaa … membayangkan kegalauan mereka saja sudah bikin ketawa ngakak cuma cuma!

Hahahahahaahaaaaa … Sesama mereka saja, sudah rebutan kursi! Setelah bergabungnya PD dan PAN, kegalauan mereka semakin tidak bisa disembunyikan lagi ! Apalagi dengan masuknya Gerindra !!! Sungguh “Hahahahaaa yang cuma-cuma untuk kami…


Baca Juga:


Jika diukur tingkat “Hahahaaaa kami dengan Pepih, sepertinya lebih ngakak Hahahaaaa kami dibandingkan Hahaha Pepih.

Kami pendukung pak Prabowo ! Bukan Pengikut pak Prabowo. Selagi kebijaksanaan dan keputusan yang diambil pak Prabowo sejalan dengan pemikiran kami, akan kami dukung. Tapi jika tidak sejalan, maka akan kami kritik untuk masukan agar pak Prabowo tahu, dasar-dasar keberatan kami atas keputusan beliau.

Jika kemudian kami dapatkan kebijaksanaan atau keputusan pak Prabowo itu adalah yang terbaik untuk negeri ini, tentu kami akan dukung kembali pak Prabowo. Dan semua itu karena kami mencintai pak Prabowo.

Tetapi jika ternyata keputusan pak Prabowo itu benar-benar melukai rasa kemanusiaan kami karena bersama pemilu ini, ada sekitar 700 nyawa melayang. Akankah sia-sia ??.

Maka kami akan berkata, Sayonara Pak Prabowo.

Disinilah perbedaan cebong dan kampret yang tidak diketahui Pepih.

Cebong : Pengikut jokowi

Kampret : Pendukung Prabowo.

Sebagai Pengikut, mereka takut mengkritik orang yang diikutinya karena takut kualat !


Baca Juga:


Sedangkan pendukung, mereka berani mengkritik orang yang didukungnya jika mereka salah menurut ilmu dan pengetahuan dia dan mereka tidak takut kualat karena dasar kritikan mereka adalah, mengingatkan kepada yang hak ! Memberi masukan. Dengan dasar tawashshaubil haq tawashshaubil sabr. Itu adalah suruhan Tuhan Jika kita tidak mau melakukannya, maka kita termasuk golongan orang-orang yang merugi.

Jadi, kami tidak takut kualat. Karena itu suruhan Allah Tuhan kami, lewat ayat Al -Qur’an Al-‘Asr ayat 3.

Pepih menuduh kami, kehilangan bidikan karena jkw manggung 5 tahun lagi dan bukan lagi musuh Pak Prabowo.

Maaf Pepih, pengetahuan anda tentang pak Prabowo terlalu minim. Slogan Pak Prabowo itu adalah, “Satu musuh sudah terlalu banyak”. Jadi pak Prabowo tidak pernah menganggap Jkw sebagai musuh !!!! Anda berhalusinasi berat !! Hahahahaaaaa.

Oh ya … apakah pepih yakin? Jkw akan manggung 5 tahun lagi ? Ingat ! Dia belum dilantik ! Dan umur, siapa yang bisa menebak dengan tepat?

Aku ingin tutup catatan saya ini dengan membahas kekhawatiran pepih yang membuat dia ngakak lagi. Karena menurut pepih, 2024 anies akan manggung dan pak Prabowo ikut nyalon lagi, “Apa gak tengkar sesama teman sendiri, berebut pilih Anies atau Prabowo hohoho ..

Tahun 2024 insya Allah Emak-Emak sudah boleh duduk goyang-goyang kaki dirumah, sambil nonton TV, melihat mas Anies di arak keliling Indonesia oleh para Suporter sepak bola seluruh Indonesia beserta, para milenials.

Dan pak Prabowo, jadi timsesnya yang sudah sangat tahu trik-trik kecurangan lawan yang akan menjegal mas Anies untuk tampil sebagai RI1 ..

Hohoho lagi untuk pepih. (*)


Oleh: Maya Amhar (Aktivis)


Disclaimer : Kanal opini adalah sebuah media warga. Seluruh opini yang dimuat menjadi tanggung jawab penulis. Bagi pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Sebelumnya

Lanjut Baca

Ekonomi

Wow, BPJS Kesehatan Defisit 28 Triliun

Diterbitkan

pada

VAZNEWS.COM – Asisten Deputi Direksi Bidang Pengelolaan Faskes Rujukan BPJS Kesehatan, Beno Herman mengatakan BPJS Kesehatan mengalami defisit. Ia mengatakan ‘diakhir 2019 kami memprediksi mengalami kerugian Rp 28 triliun’.


Wow, BPJS Kesehatan Defisit 28 Triliun. Angka 28 triliun rupiah itu lebih besar dari kewajiban Pemerintah membayar PBI  untuk sebanyak 96,8 juta orang miskin dan tidak mampu, selama setahun yang totalnya Rp. 26,5 triliun dengan besarnya iuran Rp. 23.000/perorang perbulan (POPB).

Munculnya angka tersebut disampaikan oleh Asisten Deputi Direksi Bidang Pengelolaan Faskes Rujukan BPJS Kesehatan Beno Herman  sebagai berikut:

“Di akhir 2019 kami memprediksi mengalami kerugian Rp 28 triliun,” saat diskusi Persi bertema “Defisit BPJS Kesehatan dan dampaknya pada keberlangsungan pelayanan Rumah Sakit”,di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Selasa (16/7).

Beno  menyebut BPJS Kesehatan belum membayar Rp 9,1 triliun  selama 2018 dan terbawa di laporan keuangan 2019. “Jadi kalau kita hitung lagi defisit BPJS Kesehatan yang real 2019 itu Rp 19 triliun. Tetapi kumulatifnya (utang 2018 dan 2019)  sekitar Rp 28 triliun,” ujarnya.

Tak hanya itu, Beno menambahkan klaim rumah sakit yang telah jatuh tempo per tanggal 8 Juli 2019 sebesar Rp 7,1 triiun juga harus dibayar BPJS Kesehatan. Beruntungnya, utang itu menurun menjadi 6,5 triliun per tanggal 14 Juli 2019.


Baca Juga:


Jika kita mencermati berbagai angka defisit Dana Jaminan Sosial JKN yang dikelola BPJS Kesehatan memang tidak ada yang pasti. Yang pasti adalah angkanya terus menaik.

Dari sumber data yang diperoleh, bahwa alokasi biaya manfaat JKN untuk tahun 2019  Rp. 102, 02  triliun, dengan rincian untuk Kapitasi di FKTP sebesar Rp. 11,27 triliun, RJTL Rp. 25,62 triliun, RITL Rp. 58,52 triliun, Non Kapitasi dan Non CBGs Rp. 6,1 triliun  dan  Promprev Rp. 499,42 miliar.

Disisi penerimaan, target pendapatan iuran tahun 2019 sebesar Rp. 88,8 triliun, maka dipastikan besarnya defisit DJS Rp. 13,4 triliun ( Rp. 102,02 triliun – Rp. 88,8 triliun ) Jika ditambah sisa utang tahun 2018 sebesar Rp. 9,1 triliun, maka total defisit Rp. 22,5  triliun.

Artinya untuk tahun  yang  sedang berjalan ini defisit sebesar Rp. 22,5 triliun, selisih lebih kecil Rp 5,5 triliun dari yang disampaikan Beno sebesar Rp. 28 triliun. Suatu angka yang tidak sedikit.

Sebaiknya BPJS Kesehatan melalui Direktur Keuangan yang bertanggung jawab terhadap hitung-hitungan defisit memberikan klarifikasi atas perbedaan angka defisit tersebut, walaupun masih merupakan asumsi, tetapi hitungan tersebut akan membingungkan masyarakat, khususnya peserta dan stakeholder terkait.

Sebagaimana saya utarakan diatas, bahwa yang pasti besarnya defisit terus menaik, terlepas berapa angka pastinya. Akumulasi defisit DJS tahun 2018 lebih dari 16 triliun, untuk tahun 2019 jika dipakai angka Rp. 22,5 triliun, kenaikannya 6,5 triliun, dan jika dipakai angka Rp. 28 triliun, kenaikannya 12 triliun.

Sikap Pemerintah

Bagaimana sebenarnya sikap dan kebijakan Pemerintah, terkait defisit DJS JKN yang berimplikasi luas. lebar dan dalam terhadap keberlangsungan program JKN yang diselenggarakan BPJS Kesehatan sesuai dengan amanat UU SJSN dan UU BPJS.

Baru- baru ini, tepatnya  Senin 8 Juli 2019 yang lalu  dalam Rakor Tingkat Menteri di lingkungan Kemenko PMK, rencana kenaikan iuran JKN belum menjadi pembahasan utama. Rakor dihadiri oleh stakeholder jajaran kementerian lain, seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Kesehatan, dan BPJS Kesehatan.

“Soal kenaikan iuran BPJS Kesehatan  belum dibahas kok tadi,” ujar Menteri Kesehatan Nila Moeloek saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Jakarta.

Seraya memasuki mobil, Menkes Nila tidak sempat berkomentar banyak mengenai apa saja yang menjadi pembahasan saat rakor. Ia menyampaikan, fokus rakor lebih kepada kebijakan guna memperkuat pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).


Baca Juga:


“Tadi yang lebih banyak dibahas soal kebijakan bauran. Jadi, bagaimana memperkuat pelayanan JKN,” lanjut Menkes Nila.

Terkesan pemerintah tidak ingin secara eksplisit membicarakan angka-angka defisit dan kenaikan iuran, tetapi fokus pada bauran kebijakan yang didalamnya tentu juga terkait upaya pengurangan defisit,  efisiensi dan efektivitas program JKN.

Apa itu bauran kebijakan JKN

Untuk menghindari gagal paham kita terhadap bauran kebijakan penyelenggaraan JKN, dalam upaya pengendalian defisit DJS program JKN,  maka secara utuh dikutip dibawah ini bauran kebijakan dimaksud. Ada sembilan bauran kebijakan program JKN, yaitu :

Pertama; cakupan Penerima Bantuan Iuran (PBI) 92,4 juta jiwa, iuran PBI Rp 23.000 (tidak ada kenaikan) dan telah ditindaklanjuti dengan pembayaran dimuka.

Kedua ; pemotongan dana transfer daerah atas tunggakan Iuran Pemda sebagai pemberi kerja sudah ditindak lanjut dalam Permenkeu No 183 tahun 2017.

Ketiga; pembatasan dana operasional BPJS Kesehatan dari iuran sebesar maksimal 4,8%, ditindaklanjuti dalam Permenkeu No 209 tahun 2017.

Keempat; peningkatan peran Pemda melalui penggunaan dana pajak rokok (75% dari 50% earmarked).

Kelima; perbaikan manajemen klaim fasilitas kesehatan (faskes) atau mitigasi fraud yang sesuai dengan strategic purchasing.

Keenam; perbaikan sistem rujukan dan rujuk balik yang terus dioptimalkan.

Ketujuh; cost sharing pada pelayanan yang berpotensi moral hazard yang ditindaklanjuti dalam Permenkes No 51 tahun 2018 tentang urun biaya dan selisih biaya.

Kedelapan; mengenai strategic purchasing

Catatan: bahwa strategic purchasing, selama ini sudah dijalankan di FKTP dengan kapitasi berbasis kinerja. Di RS mengembangkan elektronik klaim dengan VEDIKA yaitu verifikasi digital klaim. Termasuk mengoptimalkan deteksi dan pencegahan kejadian penyalahgunaan melalui aplikasi Defrada,

Kesembilan; mengenai sinergitas penyelenggara jaminan sosial (BPJS Ketenagakerjaan, ASABRI, Jasa Raharja, dan TASPEN) yang ditindaklanjuti dalam Permenkeu No 141 tahun 2018 yang mengatur perihal sinergisitas.

Kesembilan bauran kebijakan dimaksud, akan dilihat oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dampaknya di tahun 2019 ini, sambil menunggu hasil audit BPKP  yang menyeluruh.

“Dari data itu nanti kita bisa mendapatkan data apakah persoalannya yang mengenai masalah klaim, apakah ini menyangkut masalah penggunaan apakah masalah tarif. Kita akan lihat dari sisi itu semua sesudah kita petakan secara penuh,” jelas Sri Mulyani.

Ia menegaskan, pemerintah tidak akan membuat kebijakan yang sepotong-sepotong lantaran JKN disebut sangatlah penting. “Suitability penting, fordabilitas penting, kualitas pelayan penting dan keinginan kita untuk mengcover seluruh rakyat indonesia juga penting. Keempatnya ini penting oleh karena itu perlu dipetakan bersama,” terang Sri Mulyani.

Tim Pemantau Bauran Kebijakan program JKN

 Kalau dicermati kesembilan bauran kebijakan program JKN, dapat dibagi atas tiga fase yang sedang terjadi, yaitu fase yang sudah berproses, fase on going process, dan belum berproses.

Setidaknya ada satu bauran kebijakan yang belum berproses yaitu Ketujuh; cost sharing  pada pelayanan yang berpotensi moral hazard yang ditindaklanjuti dalam Permenkes No 51 tahun 2018 tentang urun biaya dan selisih biaya belum diberlakukan.


Baca Juga:


Permenkes sendiri sudah ada namun masih dalam penyusunan terkait item apa saja yang akan diurunbiayakan yang harus ditetapkan dalam peraturan Kementerian Kesehatan.

Dari sisi dukungan kebijakan, Kementerian Keuangan sudah maksimal. Tinggal sekarang Kemenkes dan BPJS Kesehatan harus all out ( kerja keras), untuk melaksanakan bauran kebijakan tersebut yang sudah komprehensif. Sehingga jika ujung dari buaran tersebut, harus  perlu dilakukan penyesuaian iuran, sudah berdasarkan perhitungan yang matang dan dapat menuntaskan defisit DJS secara permanen.

Oleh karena itu, karena kesembilan bauran kebijakan menyangkut banyak pihak, dan transparansi informasi, dan data yang digunakan, maka perlu melibatkan pihak-pihak lain yang dapat memberikan kontribusi percepatan bauran, dan pengawasan pelaksanaan bauran kebijakan dimaksud maka perlu dibentuk Tim Terpadu bersifat ad hoc, untuk memantau nya.

Tim Pemantau ini melibatkan berbagai lembaga terkait dipimpin oleh DJSN, serta melibatkan IDI ( mewakili kepentingan tenaga medis), Persi (mewakili kepentingan faskes)  BPJS Watch ( mewakili kepentingan peserta), BPKP, yang tugas utamanya  memantau progres kesembilan bauran kebijakan yang dilakukan oleh Kemenkes dan BPJS Kesehatan. Tim ini independen, dan menjadi check and balance sehingga hasil kerja Kemenkes dan BPJS Kesehatan berjalan dengan sebaik-baiknya dan credible.

Cibubur, 18 Juli 2019 (*(



Oleh: Dr. Chazali H. Situmorang, APT, M.Sc (Direktur Social Security Development Institute-Dosen FISIP UNAS)


Disclaimer : Kanal opini adalah sebuah media warga. Seluruh opini yang dimuat menjadi tanggung jawab penulis. Bagi pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Lanjut Baca

Opini

Asyari Usman: Inilah Induk Segala Pengkhianatan

Diterbitkan

pada

Oleh

Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

VAZNEWS.COM – PRABOWO Subianto, hari ini kau khianati ratusan juta pendukungmu. Kau tusuk perasaan mereka. Dengan entengnya. Dengan mudahnya. Tanpa rasa bersalah.


Asyari Usman: Inilah Induk Segala Pengkhianatan. Prabowo, hari ini kau hancurkan perasaan ratusan juta rakyat Indonesia. Kau mungkin punya alasan tersendiri untuk menemui dia. Tapi, apa pun alasan kau, pertemuan itu menyakitkan hati rakyat yang mendukungmu mati-matian. Dan memang banyak yang benar-benar mati. Hilang nyawa.

Bagi para pendukung Prabowo, inilah momen untuk Instrospesksi. Momen untuk meluruskan dan memperkuat aqidah. Bergantunglah dan minta tolonglah hanya kepada Allah SWT. Bukan kepada manusia. Bukan kepada Prabowo. Makhluk tidak akan pernah memenuhi harapan sesama makhluk.

Prabowo adalah makhluk. Mungkin selama ini Anda, kita, berharap terlalu muluk kepada Prabowo. Kita menyangka dia akan teguh pada apa-apa yang telah dikatakannya. Kita menyangka dia akan timbul dan tenggelam bersama rakyat. Akan mati bersama rakyat seperti yang dia ucapkan.


Baca Juga:


Dia mengatakan dia tidak akan mengkhianati pendukungnya. Tetapi, Allah menunjukkan yang lain. Ternyata, Prabowo berkhianat. Dengan mudahnya dia menjual murah harga dirinya dan harga diri ratusan juta pendukungnya.

Sekarang, Prabowo telah secara resmi mengucapkan dan selamat bekerja kepada orang itu. Hebatnya, dia masih bisa bercanda. Bergurau menghibur orang itu. Seolah-olah tidak menyakiti perasaan para pendukungnya.

Untuk terkhir kalinya menyebutkan predikat “Pak”, saya masih memberikan bilik kecil ‘husnuzzon’ kepada Anda, Prabowo. Husnuzzon tipis saya berikan sekadar menampung kemungkinan pertemuan ini adalah taktik Anda untuk sesuatu yang mengejutkan. Tetapi, untuk detik ini kami anggap pertemuan itu adalah gambaran tentang kualitas Anda.

Kawan-kawan, hari ini bukan akhir dari perjuangan umat. Sebaliknya, inilah awal dari babak baru perjuangan yang akan dipandu oleh pengalaman hari ini.

Hari ini bukan penyataan mundur umat. Lihatlah, cernalah, dan anggaplah pertemuan Prabowo dengan orang itu, hari ini, sebagai induk dari segala pengkhianatan.


Baca Juga:


Inilah Induk Segala Pengkhianatan. Artinya, sudah begitu banyak pengkhianatan terhadap perjuangan umat selama ini. Hari ini, Allah tampilkan induk dari segala pengkhianatan itu.

The mother of all betrayals. (*)


Oleh: Asyari Usman (Wartawan senior BBC)


Disclaimer : Kanal opini adalah sebuah media warga. Seluruh opini yang dimuat menjadi tanggung jawab penulis. Bagi pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Lanjut Baca

Trending