Terhubung dengan Kami

Daerah

Kasus Padi IF8 Bentuk Kriminalisasi Negara Terhadap Petani Kecil

Diterbitkan

|

Kasus Padi IF8 Bentuk Kriminalisasi Negara Terhadap Petani Kecil
Photo: © Disediakan oleh DM1

VAZNEWS.COM – Petani pemulia benih padi IF8 asal Aceh, Tengku Munirwan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Aceh. Ia diduga menjual bibit padi tak bersertifikat. Kasus ini dinilai sebagai bentuk kriminalisasi dan diskriminasi negara terhadap petani kecil.


Kasus Padi IF8 Bentuk Kriminalisasi Negara Terhadap Petani Kecil. Koalisi Kedaulatan Benih Petani menilai negara masih melakukan diskriminasi terhadap benih rakyat. Penangkapan Munirwan petani pemulia benih padi IF8 di Aceh merupkan salah satu contoh diskriminasilasi terhadap rakyat.

“Kasus Munirwan ini menandakan bahwa benih rakyat itu masih mengalami diskriminasi oleh negara. Sehingga petani kecil masih rentan untuk dikriminalkan,” kata anggota koalisi yang juga Wakil Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria, Dewi Kartika di Kedai Tempo, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Menurutnya kasus kriminalisasi terhadap petani kecil seharusnya tidak boleh terjadi. Putusan Mahkamah Konstitusi atas UU Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman tahun 2013 menyebut petani mempunyai kebebasan untuk menangkarkan dan memuliakan tanamannya sendiri.

“Artinya, kriminalisasi terhadap Munirwan ini adalah preseden yang buruk. Tidak hanya pelanggaran terhadap keadilan yang seharusnya oleh petani, tetapi ini juga merupakan pelanggaran terhadap hukum itu sendiri karena bertentangan dengan putusan MK,” ujarnya.


Baca Juga:


Dewi merasa kriminalisasi terhadap Munirwan bertentangan dengan program pemerintah, yakni Desa Daulat Benih. Padahal Munirwan selaku Kepala Desa dan pemulia hendak mengembangkan benih di desanya.

“Ini sangat ironi,” ujar Dewi.

Dewi juga mengaku kecewa dengan langkah pemerintah, dalam hal ini Menko Perekonomian yang menandatangani nota kesepahaman tentang benih produk pengembangan rekayasa genetik.

Ia berpendapat MoU itu memperlihatkan bahwa kebijakan pemerintah saat ini terkait pengembangan benih belum sejalan konstitusi dan putusan MK. Di sisi lain, konstitusi telah mengamanatkan bahwa petani memiliki hak untuk berdaulat atas benihnya.

“Pemerintah sekarang ketika sedang mengumandangkan program Desa Daulat Benih, kedaulatan pangan, dan reforma agraria justru mendorong ketergantungan petani dan pertanian kita kepada produk-produk benih yang dihasilkan pabrikan skala besar,” ujarnya.

Polda Aceh menangkap dan menetapkan Munirwan sebagai tersangka atas dugaan telah menjual bibit padi IF8 yang belum bersertifikat. Munirwan ditangkap dalam kapasitas sebagai Direktur Utama PT Bumades Nisami Indonesia.

Dia dilaporkan karena benih yang ditemukan belum tesertifikasi. Munirwan dijerat Undang-undang No 12 Tahun 1992 juncto ayat 2 tentang sistem budidaya tanaman. Namun Polda Aceh mengabulkan penangguhan penahanan Munirwan atas jaminan Koalisi NGO HAM.

Dewi menyatakan penangguhan penahanan terhadap Munirwan belum menyelesaikan polemik. Sebab, ia berkata, kasus Munirwan bisa dilanjutkan ke tahap persidangan jika belum ditutup.

Baca Juga: KPU Akui Situng Tak Rampung karena Banyak Permainan C1

“Oleh karena itu kami ingin memastikan Kepolisian dari sejak Mabes Polri sampai ke bawah harus memastikan bahwa kasus ini segera ditutup dan dilakukan rehabilitasi pemulihan hak, nama baik terhadap Bapak Munirwan, termasuk petani-petani yang sampai sekarang masih banyak yang dikriminalkan,” ujar Dewi.

Dewi menyampaikan petani membutuhkan perlindungan dan proteksi dari ketidakadilan dan kesewenangan.

“Petani tidak butuh dikriminalkan lagi karena sudah banyak sebetulnya aturan yang menjamin petani atas benihnya,” ujarnya.


Source: Artikel asli

Komentar

Daerah

Tragedi Papua, Andre Ke Jokowi: Kecewa, Ucap Belasungkawa Saja Tidak

Diterbitkan

|

Oleh

Tragedi Papua, Andre Ke Jokowi Kecewa, Ucap Belasungkawa Saja Tidak

VAZNEWS.COM – Ketua Ikatan Keluarga Minang, Andre Rosiade mengaku kecewa kepada Presiden Jokowi yang menurutnya tidak mampu memulihkan situasi mencekam di Wamena, Papua.


Tragedi Papua, Andre Ke Jokowi: Kecewa, Ucap Belasungkawa Saja Tidak. Anggota DPR RI terpilih periode 2019-2024, Andre Rosiade menyayangkan sikap Presiden Joko Widodo yang terkesan menutup mata terkait insiden Wamena, Papua berujung korban Jiwa.

Tragedi Wamena telah banyak menelan korban jiwa dan kebanyakan korban meninggal berasal dari masyarakat pendatang di antaranya dari Suku Minang, Suku Bugis, dan lainnya.

Andre selaku Ketua Harian DPP Ikatan Keluarga Minang, mengungkapkan rasa kekecewaannya kepada Presiden Jokowi terkait penanganan konflik Papua.

“Terus terang kami kecewa respons pemerintah sampai saat ini belum ada. Rakyatnya ada puluhan orang meninggal dunia, tetapi beliau (Jokowi) mengucapkan belasungkawa saja tidak,” kata Andre, mengutip dari laman RMOL, Minggu (29/9/2019).


Baca Juga:


Saking kecewanya terhadap Jokowi, Andre menyindir tingkah Presiden Jowo Widodo. Ia membandingkan sikap Jokowi yang lebih ingat dan mau mengucapkan belasungkawa kepada Presiden Prancis, ketimbang rakyatnya yang meninggal akibat rusuh di Papua.

“Malah dia punya waktu mengucapkan belasungkawa untuk wafatnya Presiden Prancis, Jacques Chirac, yang mungkin Jokowi sendiri belum pernah ketemu,” sambungnya.

Tidak sampai di situ, politisi Gerindra itu juga mencoba menceritakan situasi dan kondisi Wamena yang sangat mengerikan. Jokowi dinilainya tidak memiliki empati terhadap rakyatnya. Karena ini menyangkut nyawa, Andre dengan tegas mempersilahkan Jokowi mundur jika tidak mampu mengurus Papua.

“Faktanya di sana yang terbunuh itu mendapat perlakuan dikampak, dibacok, lalu dibakar. Kami mencatat presiden tidak punya empati sama rakyatnya. Kalau enggak mampu, ya Anda (Jokowi) mundur saja dari presiden. Ini urusan nyawa,” tegasnya.

Baca Juga: Akan Terbitkan Perpu, Fraksi PDIP Peringatkan Jokowi Hormati DPR

Lebih lanjut Andre meminta pemerintah segera memulihkan situasi Papua khususnya di Wamena. Ia meminta ada jaminan keamanan untuk masyarakat yang tinggal di sana. Menurutnya, bantuan evakuasi terhadap masyarakat yang ingin keluar dari Papua harus disiagakan.

“Kirim pasukan untuk memulihkan kepastian keamanan agar situasi (Papua) kembali kondusif. Kedua, tambah Hercules untuk yang mau keluar dari Wamena agar diberikan akses untuk kemudahan.” tutup Andre.

Lanjut Baca

Daerah

Ungkapan Kapolda Sultra: Randy Ditembak Dengan Peluru Tajam

Diterbitkan

|

Oleh

Unkapan Kapolda Sultra; Randi Ditembak Dengan Peluru Tajam
Photo: © Disediakan oleh Antaranews.com

VAZNEWS.COM – Randi adalah mahasiswa Perikanan Universitas Halu Oleo (UHO) yang tewas saat demo di Kendari. Kapolda Sultra, Iriyanto membantah pihaknya menggunakan peluru tajam dalam mengamankan aksi massa.


Ungkapan Kapolda Sultra; Randy Ditembak Dengan Peluru Tajam. Kapolda Sulawesi Utara (Sultra), Brigjen Iriyanto membenarkan jika peluru yang ditembak ke Randy adalah jenis peluru tajam.

“Betul itu adalah tembakan peluru tajam,” sebut Brigjen Iriyanto saat jumpa pers di Mapolda Sultra, pada Jumat (27/9/2019).

Namun terkait dengan senjata apa yang digunakan, Brigjen Iriyanto sama sekali tidak dapat memastikan hal tersebut. Tetapi Ia memastikan jika seluruh anggotanya yang melakukan pengamanan saat itu sama sekali tidak dibekali senjata.

.”Sesuai dengan arahan Kapolri. Dalam melakukan pengamanan jangankan peluru tajam, peluru karet pun kami tidak diizinkan,” ujar Brigjen Iriyanto.


Baca Juga:


Iriyanto juga menambahkan jika Randy ditemukan berjarak sekitar 600 sampai 700 meter dari Gedung DPRD Sulawesi Utara.

Randy telah menjadi korban tembak usai bentrok dengan polisi. Randy sempat dibawa ke Rumah Sakit Ismoyo namun selang sekitar 15 menit nyawanya tidak dapat diselamatkan. Mahasiswa semester 7 itu dilarikan ke Rumah Sakit Ismoyo pada pukul 15.30 Wita, dan dinyatakan meninggal pada pukul 15.45 Wita.

Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Golden Hart juga mengatakan. Hingga kini penyebab luka di dada Randi masih dalam pemeriksaan tim penyidik. “Ada bekas luka yang terdapat di dada sebelah kanan. Kita belum bisa memastikan luka tersebut karena apa. Saat ini korban sedang dibawa dari RS Korem ke Kendari untuk otopsi,” ujar Harry pada Kamis (26/9/2019).

Baca Juga: Polisi Akui Salah Tuduh Ambulan Pemprov DKI Bawa Batu dan Bensin

Harry mengatakan jika polisi yang menjaga aksi demo hanya dilengkapi dengan tameng dan tongkat. Selain itu perlengkapan lain seperti pengurai massa menggunakan gas air mata, water canon dan beberapa kendaraan. Harry membantah jika petugas menggunakan peluru tajam saat melakukan pengamanan aksi demo.

“Tidak ada itu (peluru). Kami sudah pastikan pada saat apel tidak ada satupun yang membawa peluru tajam, peluru hampa ataupun peluru karet,” ungkap Harry.

Lanjut Baca

Daerah

Mahasiswa Palembang Rencananya Akan Menggelar Aksi Demo Hari ini

Diterbitkan

|

Oleh

Mahasiswa Palembang Rencananya Akan Menggelar Aksi Demo Hari ini
Photo: © Disediakan oleh Tribunnews

VAZNEWS.COM – Mahasiswa Sumatera Selatan minta izin kepada Rektor untuk kuliah dijalan. Mahasiswa melakukan aksi penolakan terhadap RUU KUHP yang rencananya akan disahkan DPR dalam waktu dekat.


Mahasiswa Palembang Rencananya Akan Menggelar Aksi Demo Hari ini. Gema aksi mahasiswa yang protes penolakan terhadap RUU KUHP tidak hanya terjadi di Jakarta dan Pulau Jawa. Mahasiswa di Sumatera Selatan (Palembang) pun akan menggelar aksi protes hari ini.

Undangan dan ajakan aksi demo ini telah tersebar di media sosial dan grup-grup WhatsApp sejak malam tadi. Bunyi undangan itu ialah mengajak semua mahasiswa libur kuliah dan turun ke jalan.

“Seruan aksi Sumatera selatan (palembang) Bergerak, kuliah 4 SKS di gedung DPRD Sumsel”. Berikut isi ajakan aksi yang tersebar luas di dunia maya khususnya pada media sosial.


Baca Juga:


Bukan hanya itu saja, spanduk yang bertuliskan ajakan aksi itu juga tersebar di beberapa sudut kampus UIN Raden Fatah Palembang. Salah satu dari spanduk itu berisi kalimat ajakan dan minta izin libur kuliah.

“Pak Rektor… Kami Minta Izin Kuliah di Jalan”. Tulis salah satu spanduk yang dibentangkan depan gedung Rektorat UIN Raden Fatah.

Selain Aliansi mahasiswa UIN Raden Fatah. Aksi demo juga akan diikuti mahasiswa lain seperti dari Politeknik Sriwijaya, Universitas Muhammadiyah Palembang dan mahasiswa dari kampus lain di Palembang. Namun sejauh ini masih belum diketahui apakah mahasiswa Universitas Sriwijaya juga akan turut serta meramaikan aksi.

“Pagi ini pukul 10.00 WIB kami bergerak dari UIN ke DPRD Sumatera selatan (palembang). Hari ini kami akan mengajak mahasiswa ikut turun ke jalan”. Ungkapan Presiden Mahasiswa (Presma) UIN Raden Fatah, Rudianto Widodo pada Selasa (24/9/2019).

Rudianto juga mengatakan bahwa seluruh mahasiswa yang ada di Palembang akan turun ke jalan hari ini. Hal ini disebabkan setelah konsolidasi dilakukan malam ini yang mengajak seluruh mahasiswa untuk sama-sama turun ke jalan.

Baca Juga: Jokowi Disarankan Respon Kritik Mahasiswa Demi Indonesia Di Mata Internasional

“Tuntutan kami sama dengan teman-teman di Jakarta dan Jawa. Namun dalam hal ini kami tidak bahas soal KPK, kami fokus dengan RUU KUHP”, kata Rudi.

“Tolak RUU KUHP yang ngawur”, pungkas Rudi.

Lanjut Baca

Trending