Terhubung dengan VAZnews.com

Teknologi

Teknologi Samsung QLED TV Line-up Dengan Resolusi 4K dan 8K

Selama tahun lalu kita telah melihat semakin banyak konsumen yang merangkul standar TV QLED dari Samsung. Tahun ini TV QLED 4K dan 8K kami merespons meningkatnya permintaan untuk layar ultra-besar

Diterbitkan

pada

VAZNEWS.COM – Samsung dikabarkan akan segera merilis model TV terbaru mereka dengan teknologi 8K dan 4K. Seperti seri Samsung Q950R dengan resolusi layar 8K. TV 8K tersedia dalam berbagai ukuran layar dari 65-inci hingga 98-inci.


Teknologi Samsung QLED TV Line-up Dengan Resolusi 4K dan 8K. Untuk model TV 4K, terdiri dari Q90R, Q85R, Q80R, Q70R dan Q60R. Rentang model Ultra HD tersedia dalam ukuran layar dari 43 “hingga 82”. Layar televisi baru ini segera dipasarkan di Belanda mulai Maret 2019.

Konsumen ingin membeli TV dengan layar besar

Layar televisi besar adalah bagian dari strategi pemasaran Samsung untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Permintaan untuk TV besar telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 2,1 juta televisi berukuran 75 inci dan lebih besar telah terjual pada tahun 2018.

Baca Juga:

Jelas ada tren baru. Harapannya adalah semakin banyak konsumen yang ingin membeli TV layar lebar. Hasil dari riset pasar menunjukkan bahwa jumlah ini tumbuh 43% menjadi 3 juta TV pada 2019 dan 5,8 juta perangkat pada 2022.

Komentar

Politik

Siap-siap, Pembatasan Media Sosial Jilid II akan Diberlakukan

Diterbitkan

pada

Oleh

Photo: © Disediakan oleh IDN Times

VAZNEWS.COM – Pemerintah kemungkinan akan kembali melakukan pembatasan media sosial. Hal ini dilakukan untuk meredam konten yang menghasut dan memecah-belah jelang putusan sengketa pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK).


Siap-siap, Pembatasan Media Sosial Jilid II akan Diberlakukan. Kementerian Komunikasi dan Informatika kemungkinan akan menerapkan kembali pembatasan media sosial menjelang pembacaan keputusan sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang akan dilakukan pada 28 Juni mendatang oleh Mahkamah Konstitusi (MK).

Hal ini sudah dibahas secara internal antara Menkominfo Rudiantara bersama Dirjen Aplikasi Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan.

“Posisi mereka akan standby melihat situasi. Jika memang banyak konten yang menghasut dan memecah-belah sama seperti saat kerusuhan tanggal 22 Mei kemarin, maka kita akan lakukan lagi (pembatasan media sosial).


Baca Juga:


Tapi itu pilihan terakhir jika tidak ada lagi skenario,” kata Pelaksana Tugas Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kominfo, Ferdinandus Setu, di Jakarta, Rabu, 12 Juni 2019.

Meski begitu, lanjut Ferdinandus, pihaknya akan terlebih dahulu melihat penyebaran konten yang sifatnya menyesatkan dan seberapa banyak jumlahnya. Dengan demikian barulah bisa mengambil tindakan.

Pembatasan media sosial akan dilakukan berdasarkan rekomendasi Mesin Sensor Internet atau AIS. Misalnya, ada konten yang persebarannya mencapai 600-an dalam hitungan detik. Pembatasan akan dilakukan karena jika tidak akan semakin berbahaya.

Konsep pembatasan media sosial akan sama seperti kemarin, hanya pada video dan gambar, tidak menyeluruh. Sikap ini akan dilakukan tanpa pengumuman.

“Nanti akan ada rapat antara Menkominfo Rudiantara dan Dirjen Aptika Semuel Abrijani Pangerapan bersama dan Menkopolhukam Wiranto,” jelasnya.

Sementara itu, Rudiantara mengatakan ketika 22-24 Mei 2019, rata-rata URL (Uniform Resource Locator) untuk mendistribusikan informasi salah atau hoax jumlahnya mencapai 600-700. Tapi setelah tiga hari jumlahnya langsung turun menjadi sekitar 300-an.


Baca Juga:


Ia melanjutkan jika keputusan pembatasan media sosial sudah dikoordinasikan dengan kementerian lain, dengan syarat, apabila situasi tidak mengancam atau membahayakan. “Kalau situasinya tenang tidak akan dilakukan,” ungkap Rudiantara.

Siap-siap, Pembatasan Media Sosial Jilid II akan Diberlakukan. [viva]

Lanjut Baca

Laptop

Mengintip Spesifikasi Laptop Dell Latitude 7400 2-in-1

Diterbitkan

pada

Oleh

VAZNEWS.COM – Dell merilis Latitude 7400 2-in-1 model terbaru laptop mereka pada awal tahun ini. Menariknya, selama konferensi CES 2019 Dell mengklaim daya tahan baterai laptop tersebut mampu bertahan selama 24 jam di antara fitur-fitur lainnya.


Mengintip Spesifikasi Laptop Dell Latitude 7400 2-in-1. Perusahaan ini menjadikan laptop ini sebagai perangkat serbaguna dan produktif untuk penggunaan komersial. Ini sangat cocok bagi mereka yang ingin menyelesaikan pekerjaan saat bepergian.

Latitude 7400 hadir dalam dua varian berdasarkan prosesor Core i5 dan Core i7. Dell Latitude 7400 2-in-1 telah dilengkapi teknologi ExpressCharge. Perusahan mengatakan Latitude 7400 2-in-1 mampu mengisi daya mencapai 80% hanya dalam waktu 60 menit.

Perangkat ini memiliki kapasitas baterai hingga 78Whr. Anda juga mendapatkan giroskop intuitif yang mendeteksi permukaan tempat laptop disimpan dan mengoptimalkan masa pakai baterai dan konsumsi daya.

Beberapa spesifikasi lain termasuk prosesor Intel V-Pro i5 atau i7 quad-core generasi ke-8, RAM LPDDR3 16GB, grafis Intel 620 internal, ruang penyimpanan hingga 2TB. Laptop ini menjalankan OS Windows 10 dan memiliki layar Full-HD 14 inci.

Spesifikasi Dell Latitude 7400 2 in 1 untuk pilihan konektivitas nirkabel tetap hampir sama termasuk Bluetooth 4.2 atau 5.0. Ini juga memiliki port Thunderbolt 3, USB-A dan dukungan HDMI

Perangkat ini diklaim sebagai yang pertama menampilkan sensor proximity PC yang ditenagai oleh teknologi Intel Context Sensing. Ini berarti bahwa sensor yang ditempatkan di atas layar merasakan kehadiran pengguna dan membangunkan perangkat. Ini juga memicu Windows Hello untuk login.

Selain itu, Latitude 7400 dikatakan memiliki dukungan LTE Cat16 Gigabit dengan menggunakan ExpressConnect. Sedangkan untuk membangun dan desain, Dell Latitude 7400 memiliki tampilan logam disikat dengan bezel layar ramping dan tepi potongan berlian. [GN]

Jangan lewatkan informasi laptop terbaru, laptop gaming, ulasan, perbandingan, dan lainnya hanya di VAZnews.com.

Lanjut Baca

Nasional

Pemerintah Batasi Media Sosial, Roy Suryo: Keputusan Lebay

Diterbitkan

pada

Oleh

Pemeritah Batasi Media Sosial, Roy Suryo Keputusan Lebay
Photo: © Disediakan oleh Grid.ID

VAZNEWS.COM – Keputusan pemerintah membatsi penggunaan fitur di media sosial dan aplikasi Messenger mendapat kritikan pedas dari politisi Demokrat, Roy Suryo.


Pemerintah Batasi Media Sosial, Roy Suryo: Keputusan Lebay. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengeluarkan kebijakan kontroversial terkait pembatasan penggunaan media sosial.

Kebijakan ini dikeluarkan oleh Kemenkominfo sejak Rabu, 22 Mei 2019 menyusul aksi masa besar besaran di Jakarta terkait pemilihan umum serentak 2019 atau pilpres 2019.

Kebijakan ini menuai banyak reaksi di tengah masyarakat, ada yang pro dan tidak sedikit pula yang mempertanyakan dasar pengambilan keputusan itu. Kritikan datang salah satunya dari pakar informatika dan telekomunikasi, Roy Suryo.


Baca Juga:


Kebijakan Kemenkominfo terkait pembatasan media sosial dan pesan instan ini dinilai Roy Suryo sebagai kebijakan yang berlebihan. Ia menganggap ini sebagai sebuah keputusan lebay.

“Keputusan ini lebay karena justru masyarakat yang menjadi korbannya. Apalagi para provokator tersebut pasti sudah punya cara-cara menyiasati medsos (pakai Telegram, dan sebagainya),” ungkap Roy Suryo, mengutip dari laman viva.co.id.

Kebijakan pemerintah batasi media sosial menurut Roy Suryo tidak dapat menyelesaikan masalah justru dapat merugikan masyarakat karena dinilai tidak efektif.

“Harusnya Kominfo benar-benar bisa selektif. Hanya mengenai mereka-mereka (penyebar hoax) saja. Bukan seluruh pengguna medsos di Indonesia,” kata Roy Suryo.

Anggota Komisi I DPR RI ini berpendapat akibat kebijakan Kemenkominfo tersebut ada 150 juta pengguna internet di Indonesia yang menjadi korban.

Politikus Partai Demokrat itu menilai seharusnya Kemenkominfo fokus pada para penyebar hoax dan provokator saja. Hal ini menurutnya sudah banyak mengorbankan kepentingan masyarakat umum.

“Kalau pun hanya ada 100-200 orang yang menggunakan medsos sebagai sarana untuk provokasi kemarin, mengapa kita-kita pengguna (medsos) di Indonesia yang berjumlah 150 jutaan orang menjadi korbannya semua?” jelas Roy Suryo.

Lanjut Baca

Trending